Web ini menampung karya Pandita Mpu Jaya Prema yang terserak, sejak bernama Putu Setia. Web ini diluncurkan pukul 00.01 Rabu, 14 Maret 2012. Jika ingin donasi untuk biaya domain sila: Rek BRI 4780-01-000648-50-1 a.n. PUTU SETIA

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


321446

Pengunjung hari ini : 145
Total pengunjung : 62824

Hits hari ini : 1098
Total Hits : 321446

Pengunjung Online: 4


Twitter
Beranda

Belajar Mempersiapkan Punarbhawa

DALANG wayang kulit paling populer di Bali, Wayan Nardayana, yang dikenal dengan “merk dagang” Cenk Blong sering kali menitipkan pesan-pesan keagamaan dalam pentasnya. Maklum, dia adalah master philsafat agama Hindu lulusan Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar. Dan salah satu yang sering diseb

Selengkapnya...

Oleh : mpujayaprema | 13 Mei 2017 | Dibaca : 129 Pengunjung


Solidaritas

... melambai-lambai, nyiur di pantai.... ROMO Imam melambaikan tangan kanannya sementara tangan kiri asyik memegang handphone. Ia ikut bernyanyi meski suaranya tak begitu keras. “Tolong sampaikan sama Mas Addhie, saya ikut merinding menyaksikan konser spontan di Balai Kota Jakarta ini,” kat

Selengkapnya...

Oleh : mpujayaprema | 13 Mei 2017 | Dibaca : 141 Pengunjung


Mematenkan Simbol Hindu

ADA wacana Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bali mematenkan simbol-simbol Hindu. Tujuannya agar setelah dipatenkan tidak ada orang yang melecehkan simbol-simbol Hindu yang sakral itu. Kalau pun ada yang melecehkan simbol Hindu itu untuk tujuan yang tidak ada kaitannya dengan agama, maka mudah untuk m

Selengkapnya...

Oleh : mpujayaprema | 08 Mei 2017 | Dibaca : 244 Pengunjung


Perbuatan yang Tak Tercela

MARI kita lanjutkan ulasan pada minggu lalu, 29 April 2017. Betapa pentingnya menjaga pembicaraan yang sumbernya dari pikiran yang terkendali. Segala ucapan yang keluar dari mulut kitahendaknya menjadi sesuatu yang menyejukkan dan berguna untuk kehidupan bersama. Namun, adakalanya ucapan yang kita lakukan

Selengkapnya...

Oleh : mpujayaprema | 06 Mei 2017 | Dibaca : 242 Pengunjung


Jaga Bicara Mulai Dari Pikiran

Pikiran adalah sumber dari segala aktivitas manusia. Pikiran bisa mengembara ke mana-mana tak terpengaruh oleh waktu dan jarak. Dalam cerita-cerita lama, para pujangga menyebutkan pikiran itu ibarat kuda liar, dia bisa berlari ke mana dia suka. Mau memikirkan yang terburuk dan yang terbaik, bebas dilakukan

Selengkapnya...

Oleh : mpujayaprema | 29 April 2017 | Dibaca : 239 Pengunjung


Target

Karangan bunga tak mampir di gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).  Tidak ada pula kerumunan orang untuk memberikan semangat kepada pimpinan komisi antikorupsi itu. Padahal KPK baru saja menetapkan Syafruddin A. Tumenggung, mantan Kepala Badan Penyehatan Perbankan Nasional, sebagai tersangka dala

Selengkapnya...

Oleh : mpujayaprema | 29 April 2017 | Dibaca : 216 Pengunjung


Mari Mengetuk Pintu Hati

BETAPA pentingnya menyadari dan belajar mengenal diri sendiri, terlebih di dunia yang konon sudah mengalami kemerosotan moral ini. Banyak hal yang bisa dijadikan pelajaran dalam kehidupan di masyarakat saat ini yang mengharuskan kita untuk mengetuk pintu hati, apa sesungguhnya yang salah. Kekalahan Basuki

Selengkapnya...

Oleh : mpujayaprema | 22 April 2017 | Dibaca : 173 Pengunjung


Rukun

Menjelang pemilihan kepala daerah Jakarta, situasi menegangkan. Kapolri Tito Karnavian menjelaskan langkah antisipasi untuk mengamankan Jakarta. Ada gerakan orang daerah yang akan datang ke Jakarta dengan dalih mengamankan tempat pemungutan suara. Kapolri menyatakan hal itu harus dicegah. Polisi mengeluark

Selengkapnya...

Oleh : mpujayaprema | 22 April 2017 | Dibaca : 170 Pengunjung


Mengkritisi Yadnya

WARGA Desa Adat Culik, Kecamatan Abang, Karangasem, mengadukan panitia karya ngenteg linggih Pura Dalem setempat karena diduga ada unsur penggelembungan biaya upacara yadnya. Ngenteg linggih itu menghabiskan biaya Rp 3,142 milyar. Yang menarik mereka membandingkan dengan ngenteg linggih desa tetangganya ya

Selengkapnya...

Oleh : mpujayaprema | 17 April 2017 | Dibaca : 383 Pengunjung


Mulat Sarira di Hari Kuningan

DI Hari Raya Kuningan saat ini, setelah kita berbhakti kepada leluhur di pagi hari, marilah kita melakukan koreksi diri dengan melakukan mulat saria alias introspeksi diri. Mulat sarira ini penting dilakukan untuk membentengi diri kita agar tidak banyak terpengaruh nafsu-nafsu buruk, baik yang masih di dal

Selengkapnya...

Oleh : mpujayaprema | 15 April 2017 | Dibaca : 428 Pengunjung


Ibu Kota

Ada teman yang mau menjual rumahnya di Bukit Hindu, sebuah kawasan yang tidak ada bukitnya di Kota Palangkaraya. Entah kenapa pula ada kata "Hindu" untuk penamaan itu. Teman saya menjual rumahnya bukan karena nama kawasan yang rada aneh itu, tapi ia bersiap pensiun dan mau meninggalkan Kalimantan

Selengkapnya...

Oleh : mpujayaprema | 15 April 2017 | Dibaca : 479 Pengunjung


Festival Piodalan

SEORANG antropolog warga negara Jerman namun mengajar di sebuah universitas terkenal di Australia dengan sangat serius bertanya apakah benar di Bali nanti, maksudnya mulai hari ini, akan ada “festival piodalan”. Istilah itu dia dapatkan dari temannya dan dia tak tahu apakah itu diucapkan secara

Selengkapnya...

Oleh : mpujayaprema | 10 April 2017 | Dibaca : 450 Pengunjung


Pengamalan Agama Ibarat Sebutir Telur

OmAsato ma sadgamaya,tamaso ma jyotir gamaya,mrtyor mãmrtham gamaya. SLOKA di atas kalau diterjemahkan dengan bebas artinya begini: Om Hyang Widhi, bimbinglah kami dari jalan yang tidak benar, menuju jalan kebenaran. Bimbinglah kami dari kegelapan pikiran,menuju cahaya pengetahuan yang suci. Bi

Selengkapnya...

Oleh : mpujayaprema | 08 April 2017 | Dibaca : 508 Pengunjung


Tak Lucu

Hadir pada ulang tahun Romo Imam, saya diminta menyampaikan kritik. Saya katakan Romo sudah berubah. "Tidak lagi lucu, baik saat memberi wejangan maupun saat menulis di jurnal. Barangkali faktor usia," kata saya. Romo langsung terbahak. "Sampeyan benar," katanya. "Ulah para neg

Selengkapnya...

Oleh : mpujayaprema | 08 April 2017 | Dibaca : 502 Pengunjung


Galungan dan Buah Lokal

MUNGKIN ini terlalu ideal. Hari Raya Galungan menggunakan buah lokal, sebagaimana yang menjadi tradisi sejak dahulu kala. Disebut sangat ideal karena hal itu tidak mungkin terjadi belakangan ini. Headline koran Pos Bali terbitan Sabtu, 1 April lalu, secara gamblang menyebutkan, pisang didrop dari luar Bali

Selengkapnya...

Oleh : mpujayaprema | 03 April 2017 | Dibaca : 468 Pengunjung


Lihat Arsip Posting Lainnya :

 

Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?