Dahulu  Putu Setia - Jurnalis TEMPO Media Grup. Sejak menjadi pendeta Hindu, 21 Agustus 2009, tinggal di Pasraman Dharmasastra Manikgeni, Desa Pujungan, Kabupaten Tabanan, Bali.

Web ini mencoba menampung karya-karya Pandita Mpu yang terserak, sejak beliau bernama Putu Setia. Tentu, karya yang masih relevan dan yang bisa diselamatkan. (Web ini diluncurkan resmi dengan mencatat data pengunjung pada pukul 00.01 Rabu, 14 Maret 2012)

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


472540

Pengunjung hari ini : 67
Total pengunjung : 78985

Hits hari ini : 149
Total Hits : 472540

Pengunjung Online: 2


Twitter
Beranda

Desa Pekraman Akankah Lenyap?

DESA Pekraman dulu disebut desa adat. Ini membedakan dengan desa yang dibentuk negara sebagai pemerintahan yang paling rendah. “Pemerintahan desa” oleh orang Bali lalu disebut Desa Dinas. Tapi kata “dinas” itu tak ada secara formal, hanya supaya mudah menyebutnya. “Pemerintaha

Selengkapnya...

Oleh : mpujayaprema | 18 Oktober 2014 | Dibaca : 290 Pengunjung


Sad Kertih Menjaga Alam Bali

LONTAR Purana Bali merumuskan soal ajaran Sad Kertih. Enam hal yang harus dijaga berkaitan dengan memelihara alam untuk sebesar-besarnya kemajuan manusia. Tapi apakah ke enam unsur kertih itu tetap dijaga oleh manusia-manusia Bali? Di mana terjadi kelengahan dalam menjaganya?  Menarik untuk dibahas se

Selengkapnya...

Oleh : mpujayaprema | 13 Oktober 2014 | Dibaca : 60 Pengunjung


Koalisi Rakyat

Tuhan Maha Adil. Beliau membuat semua orang senang. Tentu tingkat kesenangan berbeda dan tidak sama, tergantung penilaian masing-masing orang. Santai sajalah. Ini komentar dari seorang petani kopi di lereng Gunung Batukaru menanggapi apa yang oleh orang kota disebut “kegaduhan politik” di p

Selengkapnya...

Oleh : mpujayaprema | 12 Oktober 2014 | Dibaca : 50 Pengunjung


Mekidung Sebagai Bhakti pada Tuhan

PADA sasih Kapat hari-hari ini banyak piodalan yang dllangsungkan di Bali. Hampir di semua desa pekraman ada piodalan, dari yang kecil (alit), menengah (madia) maupun yang besar (utama). Bahkan tak jarang disertai ngenteg linggih dan pedudusan agung yang berlangsung sampai berhari-hari. Menarik untuk d

Selengkapnya...

Oleh : mpujayaprema | 11 Oktober 2014 | Dibaca : 53 Pengunjung


Tajen Masih Marak di Gianyar

Sesuluh SABUNGAN ayam atau yang populer di Bali disebut tajen adalah bentuk judi tradisional yang dulu menjadi kegemaran utama masyarakat Bali. Buku-buku tentang Bali di masa lampau penuh dengan ulasan atau setidaknya foto-foto tentang sabungan ayam. Lukisan tentang tajen pun banyak, termasuk lelaki Ba

Selengkapnya...

Oleh : mpujayaprema | 06 Oktober 2014 | Dibaca : 52 Pengunjung


Dewi Saraswati Mulai Mendunia

Patung Dewi Saraswati akhirnya berdiri megah di halaman depan Kedutaan Besar Indonesia di Washington DC, Amerika Serikat. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meresmikannya pada Kamis pekan lalu. Acara peresmian diiiringi gamelan kelompok Raga Kusuma dari kota Richmond, Virginia, dan tari Bali dari komunitas

Selengkapnya...

Oleh : mpujayaprema | 04 Oktober 2014 | Dibaca : 47 Pengunjung


Buku Baru Terbit Akhir Oktober

Buku Lentera Lereng Batukaru 2 ini adalah kelanjutan dari buku Lentera Lereng Batukaru sebelumnya. Jika buku pertama berisi "tutur kebajikan" maka pada buku kedua ini merupakan himpunan "Mimbar Hindu" yang semuanya ditulis dari Pasraman Manikgeni Dharmayasa Desa Pujungan. Seperti biasa

Selengkapnya...

Oleh : mpujayaprema | 30 September 2014 | Dibaca : 65 Pengunjung


Sampai Kapan Bali Indah

PULAU Bali tetap menjadi pulau nomor satu di dunia untuk dikunjungi wisatawan. Penghargaan itu kembali diterima tahun ini. Namun, sebagai daerah favorit wisatawan, Bali mendapat saingan ketat dari Kepulauan Raja Ampat di Papua Barat dan Pulau Komodo di Nusa Tenggara Timur. Keunikan Raja Ampat selain ke

Selengkapnya...

Oleh : mpujayaprema | 29 September 2014 | Dibaca : 69 Pengunjung


Penyeimbang

Kemarin, saya diundang makan malam oleh Romo Imam. "Untuk merayakan kembalinya Orde Baru," katanya, bercanda. "Ini hari kedua, apa sudah ada perubahan?" "Saya sudah lupa Orde Baru, kecuali menonton film Pengkhianat G30S/PKI di TVRI," kata saya. "Kalau saya saja lupa,

Selengkapnya...

Oleh : mpujayaprema | 28 September 2014 | Dibaca : 69 Pengunjung


Catur Guru yang Tak Terpisahkan

SEBUAH bangsa yang maju pasti karena di sana ada guru-guru bermutu. Ungkapan ini seringkali dilontarkan oleh berbagai tokoh. Artinya, peran dan peranan guru sangat menentukan maju mundurnya sebuah bangsa. Karena generasi yang terdidik bagus hanya bisa dilakukan oleh guru yang baik. Tentu pula ada sistem di

Selengkapnya...

Oleh : mpujayaprema | 27 September 2014 | Dibaca : 70 Pengunjung


KamasanJadi Warisan Budaya

ADA kejutan dari maestro pelukis kondang Nyoman Gunarsa. Ia mengusulkan agar Seni Lukis Klasik Bali – Kamasan masuk nominasi Warisan Budaya Dunia. Banyak negara berlomba-lomba mengajukan kekayaan budaya bangsanya untuk dijadikan Warisan Budaya Dunia. Apakah nanti Seni Lukis Klasik Bali – Kamasa

Selengkapnya...

Oleh : mpujayaprema | 22 September 2014 | Dibaca : 50 Pengunjung


Kabinet

Kaget juga saya ketika dipanggil Romo Imam untuk membicarakan masalah pekerjaan. Mau bekerja apalagi sudah tua begini? Ternyata yang dimaksud rencana anaknya yang akan membuat percetakan kecil-kecilan dan pembuatan papan nama. “Begitu Jokowi dilantik sebagai presiden, usaha ini akan kebanjiran order,

Selengkapnya...

Oleh : mpujayaprema | 21 September 2014 | Dibaca : 59 Pengunjung


Nyepi KaryaJelang Ngusaba

BEBERAPA desa pekraman di Bali, minggu depan akan menyelenggarakan “nyepi karya”. Hari Selasa, 23 September, bertepatan dengan Tilem Ketiga, diadakan tawur. Esoknya nyepi seharian. Nyepi yang tidak ada kaitannya dengan tahun baru Sakaini hampir sama dengan nyepi yang normal. Intinya, hening sej

Selengkapnya...

Oleh : mpujayaprema | 20 September 2014 | Dibaca : 44 Pengunjung


Sila keempat Pancasila

(Tulisan ini versi yang panjang. Lihat catatan di akhir tulisan) Pancasila yang menjadi dasar negara kita, sudah dihafal sejak usia sekolah dasar. Kalau pun masih ada yang salah dalam mengucapkannya tanpa teks, itu terjadi pada sila ke empat yang memang kalimatnya lebih panjang dari sila yang lainnya.

Selengkapnya...

Oleh : Pandita Mpu Jaya Prema | 19 September 2014 | Dibaca : 73 Pengunjung


Sila Keempat

Pancasila sudah banyak dihafal. Kalaupun masih ada yang salah mengucapkan, itu terjadi pada sila keempat yang berbunyi: "Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan." Sila ini juga membingungkan dalam membaca kata-kata "permusyawaratan/perwakil

Selengkapnya...

Oleh : Pandita Mpu Jaya Prema | 19 September 2014 | Dibaca : 43 Pengunjung


Lihat Arsip Posting Lainnya :

 

Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?